Laporan Netralisasi Asam Basa Kimia Dasar 1

laporan netralisasi asam basa

Calonpendidik.com – Netralisasi asam basa yang menghasilkan garam dimana unsur-unsur penyusunnya berasal dari reaksi asam dan basa. Laporan netralisasi asam basa ini sebagai hasil dari praktikum netralisasi asam basa kimia dasar 1.

Laporan netralisasi asam basa sebagai bentuk perhatian kepada teman-teman mahasiswa yang membutuhkan referensi dalam pembuatan laporan khususnya yang mempelajari kimia dasar. Seperti yang kita ketahui mata kuliah kimia dasar selain dari teori juga terdapat praktikum salah satunya percobaan ini.

Pendahuluan Laporan Netralisasi Asam Basa

Tujuan Percobaan

Tujuan dari praktikum ini adalah melakukan titrasi asam basa dengan menggunakan indikator.

Landasan Teori

Definisi asam basa telah berubah dengan waktu. Hal ini bukan masalah definisi yang ketinggalan zaman, namun lebih karena kemudahan menerapkan konsep untuk masalah kimia yang khusus.Oleh karena itu, mengurutkan kekuatan asam basa juga bergantung pada definisi asam basa yangdigunakan.

a. Asam basa Arrhenius

Di tahun 1884, Arrhenius mendefinisikan asam adalah zat yang menghasilkan H+ dan basa adalah zat yang menghasilkan OH. Bila asam adalah HA dan basa BOH, maka HA → H+ + A danBOH → B+ + OH. Bila asam dan basa bereaksi akan dihasilkan air.

b. Asam basa Bronsted Lowry

Dalam teori baru yang diusulkan tahun 1923 secara independen oleh Brønsted dan Lowry, asam didefinisikan sebagai molekul atau ion yang menghasilkan H+ dan molekul atau ion yang menerima H+ merupakan partner asam yakni basa. Basa tidak hanya molekul atau ion yang menghasilkan OH, tetapi yang menerima H+. Karena asam HA menghasilkan H+ ke air dalam larutan dalam air dan menghasilkan ion oksonium, H3O+, air juga merupakan basa menurut definisi ini.

Di sini H3O+ disebut asam konjugat dan A adalah basa konjugat. Namun, karena air juga memberikan H+ ke amonia dan menghasilkan NH4+, air juga merupakan asam, seperti diperlihatkan persamaan berikut:

H2O(asam) + NH3 (basa) → NH4 + (asam konjugat) + OH (basa konjugat)

Jadi air dapat berupa asam atau basa bergantung ko-reaktannya. Walaupun definisi Bronsted Lowry tidak terlalu berbeda dengan definisi Arrhenius, definisi ini lebih luas manfaatnya karena dapat digunakan ke sistem asam-basa dalam pelarut non-air.

c. Asam basa Lewis

Sementara konsep asam basa Brønsted terbatas pada transfer proton, asam Lewis A biasanya didefinisikan sebagai akseptor pasangan elektron dan basa Lewis B sebagai donor, pasangan elektron. Asam A dan basa :B terikat membentuk aduk A:B. Misalnya, asam Lewis BF3 dan basa basa Lewis OEt2 (dietileter) membentuk aduk F3B:OEt2. Kestabilannya meningkat dengan terbentuknya oktet di sekitar boron ketika terbentuk aduk. (Taro Saito. 1996)

Asam-asam umumnya melarut dan terionisasi di dalam air memberikan ion H+ sehingga memperbesar konsentrasi ion ini dalam larutan. Banyaknya ion H+ yang terbentuk bergantung pada kekuatan suatu asam, dan biasanya dicirikan oleh derajat ionisasi asam (  atau tetapan ionisasi asam Ka-nya diketahui.

Telah dikemukakan bahwa hampir sebagian besar basa tergolong sukar larut, dan hanya sebagian kecil yang mudah larut. Untuk basa-basa lemah seperti NH4OH, anilin, dan seterusnya, maka konsentrasi ion-ion OH ditentukan dari  (derajat ionisasi) atau nilai Kb (tetapan ionisasi basa)-nya.  (Mulyono. 2012)

Senyawa garam sebagai hasil netralisasi asam dengan basa, unsur-unsur penyusunnya tentu merupakan gabungan dari senyawa asam dan basa yang bereaksi dan terkadang terdiri dari atom-atom unsur yang berderet panjang. Untuk beberapa jenis garam yang mempunyai kekhasan tertentu berdasarkan hasil reaksi, dipergunakan sistem penamaan tertentu pula.

1 . Garam Asam

Penamaan garam yang dalam senyawanya masih mengandung atom H+ dari asem (garam ini terbentuk dari asam-asam polivalen, hanya sebagian atom H+ asam yang digantikan oleh atom logam), diberi sisipan ‘hidrogen’.

2. Garam Basa

Penamaan garam yang dalam molekulnya masih mengandung gugus OH, diberi sisipan ‘hidroksi’ (Teti Elida S, dkk. 1996)

Reaksi-reaksi yang terjadi dalam kimia organik ada yang merupakan reaksi asam-basa. Mekanisme reaksi ini juga merupakan cara yang baik untuk melihat hubungan antara struktur molekul dan kereaktifannya. Reaksi asam-basa juga dapat menggambarkan peran pelarut yang sangat penting dalam reaksi kimia.

Asam organik (asam karboksilat) umumnya merupakan asam lemah dibandingkan dengan asam anorganik (HCI, H,SO.). Asam organik akan terdisosiasi dengan tidak sempurna. Contohnya, asam asetat 0,1 M dalam air 25°C akan terdisosiasi menjadi ion-ionnya hanya sekitar 10%. Kecilnya disosiasi dapat dilihat melalui tanda kesetimbangan reaksi berupa anak panah ke arah hasil reaksi yang digambarkan lebih pendek daripada anak panah yang mengarah ke asam asetat.

Baca Juga  Laporan Termokimia Kimia Dasar 1 Lengkap

Asam kuat mempunyai arah kesetimbangan ke kanan dan mempunyai tetapan (konstanta) keasaman yang besar, sedangkan asam lemah mempunyai arah kesetimbangan ke kiri dan mempunyai konstanta keasaman yang kecil. Rentang nilai Ka untuk berbagai macam asam sangat besar, berkisar dari 1015 untuk asam kuat sampai dengan 10-60 untuk asam lemah. Asam-asam anorganik seperti H2SO4, HNO3, dan HCI mempunyai Ka, berkisar 102-109, sedangkan asam-asam karboksilat mempunyai ka berkisar 10-5-10-15.

Jika suatu asam direaksikan dengan basa maka produk yang dihasilkan adalah asam dan basa yang lebih lemah dari asam dan basa mula-mula. Reaksi ini disukai karena produknya lebih stabil. Contohnya adalah reaksi antara asam asetat dengan ion hidroksida.

Basa konjugasi (ion asetat) sebagai produk reaksi lebih lemah daripada basa semula (ion hidroksida) dan mempunyai pk, yang besar. Asam konjugasi (air) lebih lemah daripada asetat dan mempunyai pK, yang juga besar. (Riswiyanto. 2009)

Titrasi asam-basa memerlukan indikator untuk menunjukkan perubahan warna pada setiap interval derajad keasaman (pH). Indikator sintetis yang digunakan selama ini mempunyai beberapa kelemahan seperti polusi kimia, ketersediaan dan biaya produksi mahal. Sehingga digunakan indikator pembanding fenolftalein untuk titrasi asam-basa yaitu asam kuat-basa kuat, basa lemah-asam kuat dan asam lemah-basa kuat. Dari hasil penelitian diketahui bahwa indikator dari mahkota bunga sepatu untuk menunjukkan titik ekivalen dalam titrasi tersebut memberikan hasil yang setara dengan indikator pembandingnya. Hasil penelitian menunjukkan, indikator dari mahkota bunga sepatu dapat sebagai pengganti indikator sintetis (metil oranye dan fenolftalein) yang selama ini digunakan. (Siti Nuryanti, dkk. 2010)

Indikator pH sangat penting keberadaannya terutama dalam bidang kimia yang digunakan untuk analisis volumetri. Salah satu metode dalam analisis tesebut adalah titrasi asam basa atau titrasi netralisasi. Pada titrasi ini melibatkan penambahan indikator yang berfungsi membantu menentukan titik ekivalen yang ditandai dengan mengamati terjadinya perubahan warna pada akhir titrasi.

Indikator yang dgunakan dalam titrasi penetralan dinamakan indikator asam basa. Indikator yaitu bahan kimia yang sangat khusus yang dapat mengubah warna larutan dengan perubahan pH setelah penambahkan asam atau basa (Gupta, 2012). Indikator asam basa cenderung untuk bereaksi dengan kelebihan asam atau basa pada saat titrasi untuk menghasilkan perubahan warna. (Agustian Yazid. ISSN 2087-0725)

Tingkat keasaman suatu larutan sangat dipengaruhi oleh harga pH dari larutan asam dan basa. untuk membedakan suatu larutan termasuk asam dan basa diperlukan suatu senyawa kimia yang mampu sebagai petunjuk dengan terjadi perubahan warna bila larutan tersebut asam atau basa. senyawa kimia yang dapat menunjukkan titik akhir titrasi dari suatu reaksi tertentu disebut indikator. (Jurnal MIPA.2011)

Metode Percobaan Laporan Netralisasi Asam Basa

Berikut ini metode praktikum pada laporan netralisasi asam basa:

Alat dan Bahan

  • Gelas ukur 50 mL 1 buah
  • Ball pipet/ pipet ukur 1 buah
  • Erlenmeyer 3 buah
  • Corong biasa 1 buah
  • Buret 1 buah
  • Statif dan Klem 1 buah
  • Pipet tetes 1 buah
  • Lap kasar 1 buah
  • Lap halus 1 buah
  • Larutan Natrium Hidroksida (NaOH) 2 M
  • Larutan Asam Klorida (HCl) 0,1 M
  • Indikator Phenolftalein
  • Indikator Universal
  • Aquades

Prosedur Kerja

  1. Isi buret dengan larutan NaOH 0,2 M
  2. Larutan HCl 0,1 M diukur dengan gelas ukur sebanyak 10 ml. Kemudian dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer dengan pipet ukur dan ball pipet. Kemudian ukur pH larutan dengan indikator universal, selanjutnya menambahkan 3 tetes indikator phenolftalein.
  3. Dicatat keadaan awal (skala) dalam buret. Kemudian diteteskan 1 ml larutan NaOH dari buret ke dalam larutan HCl dengan hati-hati, selanjutnya diukur pH larutan HCl.
  4. Dilanjutkan titrasi ampai terjadi perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda. Kemudian diukur kembali pH larutan.
  5. Dicatat kembali keadaan akhir buret dan volume NaOH yang dipakai.
  6. Ditambahkan lagi 1 ml NaOH dari buret da diukur kembali pH larutan. Diulangi titrasi paling sedikit 2 kali.

Hasil dan Pembahasan Laporan Netralisasi Asam Basa

Adapun hasil beserta pembahasan dari laporan netralisasi asam basa yakni sebagai berikut:

Hasil Pengamatan

NoAktivitasHasil
1Masukkan larutan NaOH ke dalam buret50 ml NaOH
2Masukkan larutan HCl ke dalam 3 erlenmeyer yang berbeda menggunakan pipet ukur10 ml HCl
3Ukur pH larutan :
– Erlenmeyer 1
– Erlenmeyer 2
– Erlenmeyer 3

pH = 1
pH = 1
pH = 1
4Tambahkan 3 tetets indikator phenoftalein pada setiap erlenmeyerLarutan HCl yang diberikan indokator
5Teteskan 1 ml larutan NaOH 0,2 M dari buretCampuran NaOH dan HCl
6Ukur pH pada setiap erlenmeyer:
– Erlenmeyer 1
– Erlenmeyer 2
– Erlenmeyer 3

pH = 1
pH = 1
pH = 1
7Lanjutkan titrasi hingga larutan berubah warna menjadi merah mudaCampuran berwarna merah muda
8Ukur pH pada setiap erlenmeyer:
– Erlenmeyer 1
– Erlenmeyer 2
– Erlenmeyer 3

pH = 10
pH = 12
pH = 10
9Catata keadaan akhir buret dengan volume NaOH
– Erlenmeyer 1
 
– Erlenmeyer 2
 
 – Erlenmeyer 3


Vf – V0 = 4,1 – 3,0
= 1,1 ml
 Vf – V0 = 5,6 – 4,1
= 1,5 ml
Vf – V0 = 6,8– 5,6
= 1,2 ml
10Ulangi titrasi paling sedikit sebanyak 2 kaliKenaikan pH larutan

Analisis Data

Kami tidak mencantumkan analisis data laporan netralisasi asam basa pada artikel ini. Untuk mendapatkan analisis datanya dengan klik disini.

Baca Juga  Laporan Praktikum Gerak Lurus Beraturan Fisika Dasar

Pembahasan

Netralisasi adalah reaksi kimia antara asam dan basa yang menghasilkan larutan yang memiliki pH lebih netral. pH akhirnya bergantung pada kekuatan dari asam dan basa yang direaksikan. Secara teknis, netralisasi dilakukan sedikit demi sedikit hingga larutan basa atau asam yang ada di dalam buret habis bereaksi  dengan asam atau basa yang ada di dalam labu erlenmeyer sehingga larutan HCl dalam tabung erlenmeyer berubah warna menjadi merah muda lalu kemudian dicek pH larutannya.

Pada percobaan kali ini dilakukan titrasi antara asam kuat dan basa kuat yaitu titrasi antara larutan Asam Klorida dan larutan Natrium Hidroksida menurut persamaan berikut.

Percobaan dilakukan dengan cara memasukkan 50 ml larutan NaOH ke dalam buret. Setelah itu kita memasukkan larutan HCl ke dalam 3 tabung erlenmeyer yang berbeda dan diukur pH awalnya. pH larutan HCl secara berturut-turut pH sama dengan 1. pH 1 karena termasuk asam kuat yang mempunyai pH < 7.

Titrasi dilakukan sebanyak 3 kali untuk mengetahui pH awal, pH larutan saat mencapai titik ekuivalen serta pH larutan saat melewati titik ekuivalennya.selain itu, titrasi diulangi sebanyak 3 kali agar bisa menjadi perbandingan untuk memastikan volume HCl 0,1 M yang dibutuhkan saat titrasi Prinsip kerja dalam percobaan ini yaitu, mentitrasi larutan asam klorida (HCl) dengan larutan yang bersifat basa, yaitu natrium Hidroksia (NaOH) secara bertahap hingga mengalami perubahan warna yang menunjukkan titik akhir dari titrasi.

Pada dasarnya, jika kita mencampurkan larutan yang bersifat asam dengan larutan yang bersifat basa, maka akan dihasilkan larutan yang bersifat lebih netral dari sebelumnya. Adapun larutan asam yang digunakan yaitu asam klorida dan yang bertindak sebagai larutan basa yaitu Natrium Hidroksida. Setelah melakukan titrasi, maka ditentukan pH dari larutan tersebut menggunakan indikator universal. Setelah dilakukan titrasi didapatkan hasil yang sesuai dengan teori, di mana larutan mengalami perubhan warna menjadi merah muda.

Perubahan warna terjadi karena adanya resornasi elektron, berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda. Indikator phenolftalein andalan indikator yang dibuat dengan kondensasi alhidrida fhalein dengan fenol. Perubahan warna menjadi merah muda menunjukkan larutan mencapai titik ekuivalen dari larutan asam berubah menjadi larutan basa. Titik ekuivalen adalah kondisi pada saat perbandingan jumlah mol asam dan mol basa sama dengan perbandingan jumlah koefisien basa dan koefisien basa menurut reaksi. pH saat mencapai titik ekuivalen adalah di antara 5-7.

Adapun volume rata-rata NaOH yang digunakan pada percobaan pada titik akhir titrasi, yaitu 1,1 ml, 1,5 m dan 1,2 ml.

Kesimpulan dan Saran Laporan Netralisasi Asam dan Basa

Kesimpulan

Berdasarkan praktikum pada laporan netralisasi asam basa yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa apabila asam kuat dan basa kuat direaksikan maka akan menghasilkan garam dan air. Pada titik ekuivalen diperoleh pH sekitar 5- 7. Titik ekuivalen ini ditandai dengan berubahnya larutan menjadi merah muda. Larutan berubah warna merah muda karena ditambahkan indikator phenolftalein sebelum titrasi sebanyak 3 kali.

pH larutan diukur menggunakan indikator universal. Pada percobaan ini pH larutan HCl yang diketahui ada 4 yaitu sebelum titrasi, setelah titrasi 1 ml larutan NaOH 0,2 M, saat mencapai titik ekuivalen dan setelah melewati titik ekuivalen. pH larutan meningkat seiring dengan semakin banyak larutan NaOH yang digunakan.

Saran

  • Praktikan, untuk selanjutnya harus menguasai prosedur kerja pada laporan netralisasi asam basa dengan baik seperti saat melakukan titrasi. Berhati-hati dalam melakukan percobaan, karena alat yang digunakan mudah pecah. Selain itu, lebih teliti dalam pembacaan alat, karena data yang diperoleh bergantung pada pembacaan alat.
  • Asisten, diharapkan agar selalu mengarahkan praktikan dalam melakukan  percobaan supaya hasil yang diperoleh baik. Tetap pertahankan sifat yang ramah kepada praktikan dan sebaliknya bisa memberikan nilai kepada praktikannya dengan baik pada laporan netralisasi asam basa ini.
  • Laboran, diharapkan agar ditingkatkan pelayanan praktikum agar lebih baik lagi, agar praktikan bisa melakukan praktikum dengan nyaman.

Daftar Pustaka Laporan Netralisasai Asam Basa

  • Drs. Mulyono HAM, M.Pd. 2012. Membuat Reagen Kimia. Jakarta: PT. Bumi Aksara
  • Elida S, Tety, dkk. 1996. Pengantar Kimia. Jakarta: Gunadarma
  • Nurhayati, Siti, dkk. 2010. Indikator Titrasi Asam Basa Dari Ekstrak Bunga Sepatu: vol 30
  • Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
  • Saito, Taro, dkk. 1996. Buku Teks Kimia Anorganik Online. Tokyo: Ivanconi Shouten
  • Yazid, Edy Agustian, dkk. Potensi Antosianin dari Ekstrak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) sebagai Alternatif Indikator Tistrasi asam dan Basa. ISSN 2087-0723

Itulah laporan netralisasi asam basa kimia dasar 1 yang dapat kami bagikan dengan teman-teman. Semoga bisa memberikan manfaaat dalam menambah referensi pengetahuan.

Scroll to Top
Open chat
Hallo, Kami siap membantu masalah Anda.