Model Pembelajaran Argument Driven Inquiry – Pengertian, Sintaks, Serta Keunggulan

model pembelajaran argument driven inquiry

Model pembelajaran argument driven inquiry – Salah satu model yang dipandang bisa meningkatkan keterampilan proses sains peserta didik adalah dengan menerapkan model ini. Untuk itu pada kesempatan kali ini kita akan membahas model tersebut.

Pengertian Model Pembelajaran Argument Driven Inquiry (ADI)

Model pembelajaran Argument Driven Inquiry yang selanjutnya disebut ADI adalah unit pembelajaran jangka pendek untuk mendorong peserta didik terlibat dalam pekerjaan interdisipliner sehingga dapat meningkatkan pemahaman konsep penting dan praktis dalam fisika.

Melalui strategi ini, percobaan laboratorium berbasis inkuiri diintegrasikan dengan mata pelajaran yang lain, seperti membaca dan menulis. Komite Nasional Research Council Amerika, menyatakan bahwa strategi pembelajaran terpadu lebih efektif daripada percobaan laboratorium tradisional dalam meningkatkan penguasaan peserta didik terhadap mata pelajaran, perkembangan penalaran ilmiah, dan menumbuhkan minat di dalam sains.

Model ADI didasarkan pada teori konstruktivis belajar sosial dan dirancang untuk membuat pengalaman laboratorium yang lebih ilmiah otentik dan edukatif bagi peserta didik. Kegiatan laboratorium dalam ADI lebih otentik karena peserta didik sangat menyerupai ilmuwan dari laboratorium penelitian sains.

Kegiatan ini juga lebih edukatif bagi peserta didik karena dapat menerima umpan balik seluruh proses dan memiliki kesempatan untuk belajar dari kesalahan.

Model ADI dirancang untuk memagari tujuan inkuiri ilmiah sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan proses sains yang menyediakan dan mendukung rumusan masalah.

Sintaks Model Pembelajaran Argument Driven Inquiry

Sintaks dari model pembelajaran ADI menurut Sampson (2014), terdiri dari:

Baca Juga  Quantum Teaching dalam Pembelajaran

a. Tahap identifikasi topik utama

Tahapan sebelum memasuki sintaks pembelajaran, guru memperkenalkan topik utama untuk dipelajari dan memulai pengalaman laboratorium yang pernah dilakukan serta pengenalan argumen yang baik beserta komponennya.

Tahapan ini bermaksud mengarahkan fokus peserta didik terhadap suatu fenomena. Implementasi kegiatan ini dalam mata pelajaran fisika dapat dilaksanakan oleh guru dengan memutarkan video animasi atau memberikan bacaan berkaitan dengan materi yang akan disampaikan.

b. Tahap merancang metode dan mengumpulkan data

Tahap ini, peserta didik dapat mengembangkan dan menerapkan percobaan atau observasi sistematis dalam kelompok kolaboratif untuk menjawab masalah atau pertanyaan penelitian yang diajukan.

Peserta didik juga memiliki kesempatan untuk menghasilkan atau menganalisis data dalam kelompok-kelompok kecil dan mempelajari bagaimana metode yang digunakan selama penyelidikan ilmiah yang didasarkan pada sifat dari pertanyaan penelitian, fenomena yang diselidiki, dan apa yang telah dilakukan oleh orang lain di masa lalu.

c. Produksi argumen tentatif

Pada tahapan ini guru meminta setiap kelompok untuk membangun sebuah argumen yang terdiri dari klaim, bukti dan alasan peserta didik bersama teman sekelompoknya menuliskan sebuah argumen berdasarkan klaim, bukti dan alasan.

Pada tahapan ini peserta didik diminta untuk menghasilkan argumen yang disertakan penjelasan, bukti-bukti yang digunakan untuk mendukung ide-ide dan alasan yang telah dibuat. Peserta didik perlu memahami bahwa pengetahuan ilmiah tidak dogmatis.

d. Sesi argumentasi

Pada tahap ini, satu peserta didik dari masing-masing kelompok berkesempatan untuk mengemukakan argumennya, mengusulkan, memberi dukungan, mengkritik, dan memperbaiki kesimpulan, penjelasan atau dugaan pada suatu medium.

e. Diskusi reflektif eksplisit

Pada tahap ini peran guru mendorong peserta didik untuk mengembangkan argumen yang dimiliki ke dalam penyelidikan ,untuk membuktikan argumentasi yang telah dibuat secara individu maupun kelompok.

Baca Juga  Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)

Peserta didik merancang penyelidikan untuk mengumpulkan data yang akan menguatkan alasan dan mengembangkan argumen yang telah dibuat. Hasil penyelidikan merupakan suatu data atau fakta yang telah didapatkan dari sebuah penyelidikan.

f. Pembuatan laporan penyelidikan

Pada tahap ini, setiap kelompok tetap mengumpulkan laporan penyelidikan secara kasar. Artinya, laporan penyelidikan yang sifatnya sementara yang di dalamnya hanya berisi tujuan penyelidikan metode yang digunakan selama penyelidikan dan hasil penyelidikan yang telah dilakukan.

g. Peer Review Double Blind

Review laporan dilakukan secara berpasangan dengan kelompok seperti kelompok 1 dan 2, kelompok 3 dan 4 dan kelompok seterusnya sampai kelompok 7 dan 8. Lembar review merupakan rubrik penilaian argumentasi dan laporan praktikum yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas laporan penyelidikan dan argumentasi secara kelompok.

h. Revisi laporan berdasarkan hasil peer review

Pada tahapan ini guru membimbing peserta didik untuk menyimpulkan penyelidikan yang telah dilakukan. Peserta didik memberikan tanggapan ulang berupa revisi laporan penyelidikan berdasarkan hasil peer review bersama teman kelompok sejawatnya.

Setiap laporan penyelidikan kasar (sementara) hasil peer review yang masih perlu direvisi dikembalikan ke kelompok asalnya masing-masing. Setiap kelompok menulis tugas laporan praktikum hasil revisi berdasarkan peer review yang ditugaskan di rumah masing-masing.

Keunggulan

Adapun keunggulan dari model ini menurut Sampson (2014), diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Membingkai tujuan kegiatan kelas sebagai upaya untuk mengembangkan, memahami atau mengevaluasi penjelasan ilmiah untuk fenomena alam atau solusi untuk masalah.
  2. Mendorong individu untuk belajar bagaimana untuk menghasilkan argumen yang mengartikulasi dan membenarkan penjelasan untuk pertanyaan penelitian sebagai bagian dari proses penyelidikan.
  3. Memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar bagaimana untuk mengusulkan, mengevaluasi, merevisi ide melalui diskusi dan menulis dengan cara yang produktif.
  4. Mendorong peserta didik untuk mengambil kendali dari pembelajaran terhadap diri sendiri.
  5. Menciptakan komunitas kelas yang menghargai bukti dan berpikir kritis

Referensi

Sampson. (2014). Argumen driven inquiry in biology. United States Of America: NSTA Press.

Pujianti, I.(2019). Penerapan Model Argument Driven Inquiry dalam Pembelajaran Fisika Terhadap Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Kelas X MIA 1 SMA Negeri 7 Bone. Skripsi.

Scroll to Top
Open chat
Hallo, Kami siap membantu masalah Anda.